Frankly in Love: Dilemma between Right and Easy Choice

9781984816498Title/Judul: Frankly in Love
Author/Penulis: David Yoon
Publisher/Penerbit: G.P. Putnam’s Sons Books for Young Readers
Pub Date/Tanggal Terbit: 10th September 2019
Review copy from @prhinternational

Synopsis/Sinopsis:
Two friends. One fake dating scheme. What could possibly go wrong?

Frank Li has two names. There’s Frank Li, his American name. Then there’s Sung-Min Li, his Korean name. No one uses his Korean name, not even his parents. Frank barely speaks any Korean. He was born and raised in Southern California.

Even so, his parents still expect him to end up with a nice Korean girl–which is a problem, since Frank is finally dating the girl of his dreams: Brit Means. Brit, who is funny and nerdy just like him. Brit, who makes him laugh like no one else. Brit . . . who is white.

As Frank falls in love for the very first time, he’s forced to confront the fact that while his parents sacrificed everything to raise him in the land of opportunity, their traditional expectations don’t leave a lot of room for him to be a regular American teen. Desperate to be with Brit without his parents finding out, Frank turns to family friend Joy Song, who is in a similar bind. Together, they come up with a plan to help each other and keep their parents off their backs. Frank thinks he’s found the solution to all his problems, but when life throws him a curveball, he’s left wondering whether he ever really knew anything about love—or himself—at all.

In this moving debut novel—featuring striking blue stained edges and beautiful original endpaper art by the author—David Yoon takes on the question of who am I? with a result that is humorous, heartfelt, and ultimately unforgettable.

Pada tahun terakhirnya di SMA, Frank Li, seorang Limbo—istilah yang dia pakai untuk menyebut anak-anak Korea-Amerika—terjebak di antara ekspektasi orangtua yang tradisional dan kehidupan modern California Selatan. Orangtuanya punya satu aturan dalam pacaran—“Hanya boleh dengan orang Korea”—yang menjadi rumit ketika Frank menaksir Brit Means, yang cerdas, cantik—dan berkulit putih.

Sebagai sesama Limbo, Joy Song juga terjebak dalam masalah yang sama dan mereka membuat perjanjian: mereka akan pura-pura pacaran supaya bisa mendapat sedikit kebebasan. Frank merasa rencananya sempurna, tapi pada akhirnya, taktik pura-pura pacaran ini membuat Frank bertanya-tanya apakah dia benar-benar mengerti apa itu cinta—atau siapa dirinya

add-to-goodreads
bookdepository-button_web

Review:

I am so excited about Frankly in love because the synopsis contain Fake dating, my fav trope ever.
Saya sangat senang ketika membaca sinopsis Frankly in Love memuat pura-pura pacaran, plot yang saya sukai.
tenor-1

Then I saw two my friends DNF this book on Goodreads. I panic. What if I end up did not like this book too?
My panic increased after I hear this book is being praised because the writing similar to John Green writing. OMG! I did not like John Green writing.

Lalu saya melihat dua teman saya menandai buku ini sebagai DNF (tidak selesai) di Goodreads. Saya panik. Bagaimana jika saya akhirnya tidak menyukai buku ini juga?
Kepanikan saya meningkat setelah saya mendengar buku ini dipuji karena tulisannya mirip dengan tulisan John Green. YA TUHAN! Saya tidak suka tulisan John Green.

tenor

Then I tried to remind my self to calm and better to judge the book after finished reading this book

Kemudian saya mencoba mengingatkan diri saya untuk tenang dan lebih baik menilai buku setelah selesai membaca buku ini

tenor-2

So here my thought:
Jadi ini pendapat saya:

*SPOILER ALERT*

tenor-3

 

I will talk about my impression, comparation between Frankly in Love and American Panda, and the message I learned from Frankly in Love.

Saya akan berbicara tentang kesan saya, perbandingan antara Frankly in Love dan American Panda, dan pesan yang saya pelajari dari Frankly in Love.

  • I Frankly in Love with Frankly in Love

After reading prologue and the first chapter, I fell in love with Frankly in Love. The writing is so page turner and cure my reading slump. I never want to pause. I  fall in love with Frank’s voice. His character is so relatable. I am still thinking about him after close the book.   This book feel fresh because it is discuss racism in raw and honest emotion.  It is hilarious, romantic, and heartbreaking.

Setelah membaca prolog dan bab pertama, saya jatuh cinta pada Frankly in Love. Tulisan ini sangat menarik dan membuat saya tidak mau berhenti membaca. Buku ini juga menyembuhkan kemerosotan minat baca saya. Saya jatuh cinta dengan suara Frank. Karakternya sangat relatable. Saya masih memikirkan dia setelah menutup buku. Buku ini terasa segar karena membahas rasisme dalam emosi yang mentah dan jujur. Buku ini lucu, romantis, dan memilukan.

devoteddazzlingbarnowl-small

The romance feels good but it is typical shounen manga romance: In the beginning,  the couple never explicitly express their feelings towards each other, their actions speak volumes and they can understand each other without having to use words; so my gut telling me that the boy will love the romance in Frankly in Love more than the girl.

Romansa terasa menyenangkan tetapi saya merasa romansanya khas shounen manga: Pada awalnya, pasangan tidak pernah secara eksplisit mengungkapkan perasaan mereka terhadap satu sama lain, tindakan mereka berbicara banyak dan mereka dapat saling memahami tanpa harus menggunakan kata-kata; jadi firasat saya mengatakan bahwa anak laki-laki itu akan lebih menyukai romansa di Frankly in Love daripada anak perempuan.

giphy-2

Reading Frankly in Love made me realize that it remind me of American Panda, so I can’t help to compare those two books.

Membaca Frankly in Love mengingatkan saya pada American Panda, jadi saya pun mau tak mau membandingkan kedua buku tersebut.

The Similarities:
Both Frank Li and Mei have parent who want them to marry from same ethinese group. Frank is expected to marry another Korean and Mei is expected marry another Taiwan.
They both also have an older sibling who fall in love and marry a person who is not approved by their parent thus both end up ostracized by their parent.
Frankly in Love and American Panda also have “dream (what children want) vs parental expectation” conflict.
Persamaan:
Baik Frank Li dan Mei memiliki orang tua yang ingin mereka menikah dari kelompok etnis yang sama. Frank diharapkan menikah dengan sesama orang Korea  dan Mei diharapkan menikah dengan sesama orang Taiwan.
Mereka berdua juga memiliki kakak yang jatuh cinta dan menikahi seseorang yang tidak disetujui oleh orang tua mereka sehingga dikucilkan oleh orang tua mereka.
Frankly in Love dan American Panda juga memiliki konflik “mimpi (apa yang diinginkan anak-anak) vs harapan orang tua”.

giphy

The Differences:
Mei believed her parent story and world view as truth, while Frank did not accept his parent version as truth. Frank knew just because adult’s do or say something that does not mean it is good, true, or right.
American Panda talk about prejudice, not racism, while Frankly in Love openly discuss racism.

Perbedaan:
Mei percaya cerita orang tuanya dan pandangan dunia sebagai kebenaran, sementara Frank tidak menerima versi orang tuanya sebagai kebenaran. Frank tahu hanya karena orang dewasa melakukan atau mengatakan sesuatu, bukan berarti hal tersebut baik, atau benar.
American Panda berbicara tentang prasangka, bukan rasisme, sementara Frankly in Love secara terbuka membahas rasisme.

giphy-3

Looking at similarities between Frank and Mei, made me think perhaps Asians American is more alike than they think.

 

Melihat kesamaan antara masalah Frank dan Mei, membuat saya berpikir mungkin sebenarnya Asian Amerika lebih mirip daripada yang mereka pikirkan.
  • Frankly in Love : dilemma between right vs easy choice

Being ostracized or being micromanaged? Dating a girl my parent hate or dating a girl my parent love?

giphy-6

Frank’s dillema in Frankly in Love represents a dilemma between choosing the right and the easy path.

Dillema Frank dalam Frankly in Love mewakili dilema antara memilih jalan yang benar dan yang mudah.

Frank as younger sibling has advantage to learn from his older sibling mistake and avoid doing the same mistake. Frank witnessed firsthand how his sister Hanna, who often describe as good daughter, straight A student and have a good job, was ostracized by her parents for choosing to marry Miles, a black man. Hanna is not be able to convince their parent about her love choice, and how hard to change their racism point of view. 

Frank sebagai seorang adik memiliki keuntungan untuk belajar dari kesalahan kakaknya dan menghindari melakukan kesalahan yang sama. Frank menyaksikan secara langsung bagaimana kakak perempuannya Hanna, yang sering digambarkan sebagai anak perempuan yang baik, siswa yang selalu memiliki nilai A,  dan memiliki pekerjaan yang baik, dikucilkan oleh orang tuanya karena memilih untuk menikahi Miles, seorang pria kulit hitam. Hanna tidak dapat meyakinkan orang tua mereka tentang pilihan cintanya, dan betapa sulitnya mengubah sudut pandang rasisme mereka

She was brave-braver than me-but now I wonder if being brave is worth it. The brave go first into the battle, but that makes them go first to go down, too.

Dulu aku mengira dia begitu berani, tapi sekarang aku bertanya-tanya apakah bersikap berani sepadan dengan risikonya. Orang berani yang pertama kali maju perang. Namun, itu juga yang membuat mereka gugur pertama kali.

giphy-7

Frank also have confroted his parent telling them that they are racist and said other things but no avail. His parent said they are not racist. The scene showing how hard it is to deal with racist parents when they did not acknowledge their own racism.

Frank juga telah melakukan konfrontasi dengan orang tuanya dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka rasis tetapi tidak berhasil. Orang tuanya menyangkal dan mengatakan mereka tidak rasis. Adegan tersebut menunjukkan betapa sulitnya berurusan dengan orang tua rasis ketika mereka tidak mengakui mereka memiliki rasisme.

Arguing with Mom-n-Dad is pointless, because the wind will blow wherever it wants according to its own infuriating wind-logic.”

giphy-1

Given the history and the context, I understand why Frank, when fell in love with a white girl, Brit Means,  thought it is he better for him to choose the easy choice, pretend to date Joy, instead of talking to his parent and fighting for Britt Means. We always want everything to be easier in our life. Easy option feels good, relaxing, and stress free (at least for awhile). While the right choice, stand for Britt Means and talking to his parent take a lot effort and willpower.

Melihat dari sejarah dan konteksnya, saya mengerti mengapa Frank, ketika jatuh cinta dengan seorang gadis kulit putih, Brit Means, berpikir bahwa lebih baik dia memilih pilihan yang mudah, berpura-pura berpacaran dengan Joy, daripada berbicara dengan orang tuanya dan memperjuangkan Britt Means. Kita selalu ingin segalanya menjadi lebih mudah dalam hidup . Pilihan mudah terasa enak, santai, dan bebas stres (setidaknya untuk sementara), sementara pilihan yang tepat, memperjuangkan Britt Means dan berbicara dengan orang tuanya Frank membutuhkan banyak usaha dan kemauan keras.

Choosing an easy path or choice that considered is right by his parent, did not make his life without problem or simpler. Frank is constantly haunted and remind that his choice is not right and he have to make the choice to be honest. Easy choice often appears as the right choice that will make you happier, but making the easy choice the majority of the time will lead to unwanted results in your life.

Memilih jalan yang mudah atau pilihan yang dianggap benar oleh orang tuanya, tidak membuat hidup Frank tanpa masalah atau lebih sederhana. Frank terus-menerus dihantui dan diingingatkan bahwa pilihannya tidak benar dan dia harus membuat pilihan untuk jujur. Pilihan yang mudah sering muncul seolah-olah sebagai pilihan yang tepat yang akan membuatnya lebih bahagia, tetapi membuat pilihan yang mudah sebagian besar waktu akan mengarah pada hasil yang tidak diinginkan dalam hidup.

Everyone occasionally harbors the secret wish to be free from their parents’ rules and constraints. Everyone fantasizes now and then of living untethered from the burden of family

 

Why can’t I just date Brit and have fun like a normal teenager? Why can’t everyone just leave me alone?

giphy-5
Until this point, Frank did not believe himself that he can confront his parent and make honest conversation. Frank struggle to fight what he think is right vs his parent expectation, and Frank struggle to choose between easy and right choice are classic battle that every teenager can relate.
From Frank, we learn that any problems won’t go away if we avoid having a conversation with our parents.  Frankly in Love also remind us to make a right choice despite the result might not be satisfying or like we want.

Sampai saat ini, Frank tidak percaya pada dirinya sendiri bahwa ia dapat menghadapi orang tuanya dan melakukan percakapan yang jujur. Dilema Frank berjuang memperjuangkan apa yang menurutnya benar vs memenuhi harapan orang tuanya, dan perjuangan Frank untuk memilih antara pilihan yang mudah dan benar adalah pertarungan klasik yang pernah dialami setiap remaja. Dari Frank, kita mengetahui bahwa masalah tidak akan selesai jika kita menghindar dari pembicaraan sulit dengan orang tua. Frankly in Love juga mengingatkan kita untuk membuat pilihan yang tepat meskipun hasilnya mungkin tidak memuaskan atau seperti yang kita inginkan.

Frankly in Love show us how making mistake and trying to figure out what is right is part of growing up, that’s why this book made us reflect about our choice in life.

Frankly in Love menunjukkan kepada kita bagaimana membuat kesalahan dan mencoba mencari tahu apa yang benar adalah bagian dari tumbuh dewasa, itu sebabnya buku ini membuat kita merefleksikan pilihan kita dalam hidup.

tumblr_mkcutxu2co1ratheuo1_500

4 star from me!
4 bintang dari saya!

I voluntarily read and reviewed an review copy of this book. All thoughts and opinions are my own. Thank you Penguin Random House International for providing a review copy and letting me join this International Blog Tour!
blog image divider irocksowhat line garis divider

Question:
Have you added Frankly in Love to your TBR? or Have you read it? What do you think about it?

Apakah kamu sudah menambahkan Frankly in Love ke dalam daftar bacaanmu? Atau justru kamu sudah selesai membacanya? Apa pendapatmu?

blog image divider irocksowhat line garis divider

Author:
david yoon

David Yoon grew up in Orange County, California, and now lives in Los Angeles with his wife, novelist Nicola Yoon, and their daughter. He drew the illustrations for Nicola’s #1 New York Times bestseller Everything, EverythingFrankly in Love is his first novel. You can visit him at davidyoon.com.

 

blog image divider irocksowhat line garis dividerDon’t forget to check review from other hosts:

September 9th: Raf The Royal Polar Bear Reads
September 10th: Dane Ya Sh3lf
September 10th: Noura The Perks of Being Noura
September 11th: Jenny Levicorpvs Blogs
September 11th: Fabian Herrdreist
September 12th: Kath Kath Reads
September 13th: Kevin Bookevin
September 16th: Melissa The Reader and the Chef
September 16th: Meg Bibliophilogy
September 17th: Arbenit Travel with a Book
September 17th: Joshua tsundoku_sempai
September 18th: Seji The Artisan Geek
September 18th: Timo Rainbookworld
September 19th: Zshavette Wander Lost Soul
September 19th: Catia Ray of Books
September 20th: Lili Utopia State of Mind
September 20th: Vivian Bookish Angel
Advertisements

14 thoughts on “Frankly in Love: Dilemma between Right and Easy Choice

  1. Hai Mbak Hana…
    Terima kasih atas reviewnya.. Dari aku yang jarang baca buku keluar genre favorit hehehe.. Aku rasa buku ini bisa aku masukkan kedalam daftar bacaan bulan depan.
    Membaca review ini sekilas mengingatkan aku sama kakek-nenek dulu yang sempat menentang hubungan sepupuku dengan seorang gadis yang berasal dari suku lain. Sampai sekarang aku masih belum paham kenapa orang tua bisa cenderung memberikan saran seperti itu. Walau akhirnya sepupuku tetap pada jalannya dengan gadis pilihannya. Toh apa yang di asumsikan kakekku ternyata tidak benar. Aku kira kisah ini juga mirip kejadian yang sering dialami muda-mudi di negeri ini. Tapi dengan begitu kita bisa belajar untuk membuat pilihan. Terima kasih reviewnya mbak! 💜 🌻 IG: dandtae1330

    Like

  2. Awalnya aku sama sekali nggak berminat sama cerita ini meski melihat beberapa orang memujinya di IG karena plotnya bukan sesuatu yang spesial untukku. Tapi setelah baca ini, kurasa buku ini perlu kupertimbangkan lagi untuk mengisi wishlist. Tema rasisme adalah salah satu yang selalu berhasil menggugah hatiku terlebih ketika menghadapi mereka yang tidak menyadari dirinya rasis. Hahaha. | Oh iya, aku suka gif-gif yang Kak Hana tambahkan. Cute! 🙂

    IG: @x4bidden.books

    Like

  3. Aku belum baca dan belum menambahkan buku ini di TBRku. Sebelum membaca ulasan dari kak Hana, aku memang sudah sering melihat buku ini di feed IG, tp sama sekali belum tau sinopsisnya. Menurutku, setelah membaca review dr kak Hana, novel ini sepertinya menarik dan seru, meski sebenernya romance is not my cup of tea 😅
    IG : @okuta.otherside

    Like

    • Belum baca. Tapi sepertinya menarik. Nanti aku baca lewat GD dulu deh. Kalau suka boleh kapan2 beli buku fisiknya.

      Buku istrinya pun belum pernah baca. Tapi, kalau John Green aku suka sih walaupun bari baca sedikit bukunya 😁.

      IG : @sulhanhabibi

      Like

  4. Karena aku sering keracunan dirimu, seperti spin the dawn 😭 mungkin harus kuhayati review ini, tidak perlu dijelaskan lagi kenapa aku ingin membeli ini, eh baca reviewnya aku jd keinget the hate u give ya malahan 🤣

    ig : bookwormindo

    Like

  5. Setelah membaca review Hanabilqisthi dari atas sampai bawah. Saya menjadi sangat penasaran dengan detail cerita Frankly In Love dan buku ini akan menjadi wish list saya bulan October 2019.
    IG–> elfrida_suryaningsih

    Like

  6. Belum baca dan belum berniat menambahkannya ke dalam daftar bacaan karena sedang tertarik membaca genre yang lain. Tapi dari reviewnya, saya jadi lumayan paham dengan jalan ceritanya. Sepertinya saya akan mengintip bukunya sekilas di GD app.

    Dilema antara pilihan yang mudah dan benar memang sering terjadi. Hanya untuk menghindari konflik, kadangkala kita (khususnya saya) lebih memilih mengikuti pilihan yang mudah daripada pilihan yang benar seperti yang sebenarnya diinginkan. Tapi dampaknya ada ketidakbahagiaan yang terpendam. Kalau seperti ini yang sering terjadi justru penyesalan di akhir. :”)

    Terima kasih reviewnya.. ^^
    IG: ayuyupertiwi

    Like

  7. Sama seperti Hana, aku juga sangat menyukai plot yg memuat pura-pura pacaran, seperti; Just the Three of Us by Larasati Torres-Sanz, Double A by Iolana Ivanka, dan To All The Boys I’ve Loved Before – Jenny Han, dan novel ini bakalan masuk daftar bacaan aku
    Terimakasih atas reviewnya

    Ig; @sisi.nm 😀😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s