Wonderful Life by Amalia Prabowo

29915053

Judul: Wonderful Life
Penulis: Amalia Prabowo
Cetakan: Pertama, April 2015
Penyunting: Hariadhi, Pax Benedanto
Illustrator: Aqillurachman A.H Prabowo
Perancang Sampul: Fajran Fathia
Penata Letak: Fajran Fathia
Penerbit: POP (KPG)
ISBN: 978-979-91-0854-8

Sinopsis:

“Sen… dok, Qil.”

“Nes… dok.”

“Sendok….”

“Nesdok….”

Jalan hidup Amalia Prabowo terasa runtuh ketika tahu Aqil, putra sulungnya, menyandang disleksia. Perempuan dengan pendidikan dan karir cemerlang ini
harus berlapang dada putranya divonis tak akan mampu meraih prestasi akademis. Aqil tidak hanya kesulitan dalam melafal kata dan merangkai kalimat, tapi juga
membaca, menulis, dan berhitung.

Tak mau menyerah pada nasib, Amalia berusaha masuk ke dunia Aqil. Berbekal kesabaran, kemauan untuk mendengar dan memahami, Amalia menemukan dunia
yang penuh warna, imajinasi, dan kegembiraan. Dunia yang mengubah secara total kehidupan pribadi dan keluarganya.

wp-1475313218336.png

Buku ini juga bisa dibaca di IJakarta

Review:
Salah satu pelajaran yang paling berharga dalam hidupku adalah menyadari bahwa orang tuaku adalah hadiah dari Allah. Aku tidak bisa memilih dilahirkan dari orang tua seperti apa. Dan ketika membaca buku Wonderful life, aku menyadari bahwa hal tersebut juga berlaku sebaliknya. Anak adalah hadiah dari Allah. Saat menjadi orang tua, kita tidak dapat memilih anak dengan kriteria tertentu untuk menjadi anak kita.

Amalia Prabowo mengharapkan anaknya Aqil sama seperti dirinya: normal, rajin, tidak pantang menyerah dan juga sukses. Namun, Aqil berbeda. Performa Aqil di sekolah buruk dan Amalia mendapat keluhan dari guru-guru di sekolah Aqil. Awalnya Amalia mengira Aqil hanya malas dan butuh lebih banyak waktu belajar untuk mengejar ketertinggalan sehingga Amalia memberikan Aqil les belajar.

Ketika setelah mengikuti les, Aqil tidak juga mengalami perkembangan yang berarti. Amalia membawa Aqil ke psikolog dan Aqil mendapat diagnosis bahwa dirinya disleksia. Disleksia adalah gangguan belajar yang disebabkan kesulitan belajar membaca dan mempelajari bahasa, meskipun penyandangnya bisa saja memiliki inteligensia normal dan bahkan di atas rata-rata.
Mendengar hal tersebut, Amalia menolak percaya bahwa Aqil berbeda, bahwa Aqil tidak seperti yang dia harapkan sehingga Amalia merasa hidupnya sungguh malang dan berada di titik nadir.

Sejujurnya ketika membaca dan mengetahui Aqil disleksia, aku awalnya menduga Amalia akan senang karena jika aku jadi Amalia setidaknya aku tahu masalah apa yang Aqil hadapi dan kemudian bisa membantunya. Namun aku mendapati Amalia sedih dan menolak untuk percaya. Aku lupa akan perbedaan latar belakang Amalia dan diriku dan menyadari pentingnya pengetahuan/ilmu. Amalia bukan lulusan psikologi dan sepertinya tidak pernah mengambil kelas Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sementara aku pernah. Aku memiliki gambaran tentang disleksia dan apa yang harus kulakukan jika anakku disleksia.

Jika aku tidak mengerti masalah yang kuhadapi, aku mungkin akan seperti Amalia, merasa sedih dan menolak untuk percaya. Ketidaktahuan itu mengerikan dan menakutkan. Tapi sering kali begitulah hidup, kita harus berhadapan dengan sesuatu yang tidak kita ketahui dan mendapatkan pelajaran atau memahami maksud setelah berhasil melalui peristiwa tersebut

Hal lain yang membuatku optimis saat mendengar Aqil disleksia, aku pernah membaca artikel tentang orang-orang disleksia yang berhasil sukses dalam hidupnya sehingga aku membayangkan “Okay, my child will be different but it does not mean he/she will not be succeed”. Dan di bag akhir halaman buku Wonderful Life pun dipaparkan contoh tokoh-tokoh terkenal yang disleksia dan berhasil sukses dalam hidup mereka.

Tentu saja, Amalia kemudian belajar untuk menerima kenyataan, menerima bahwa Aqil berbeda. Dia berusaha yang terbaik untuk memahami Aqil meskipun usahanya tersebut tidak selalu berakhir baik. Misal, ternyata anak keduanya, Satria merasa bahwa Amalia lebih memperhatikan Aqil dibanding dirinya.Ketika membaca bagian ini aku menyadari bahwa orang tua sebenarnya berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya, meskipun ada kalanya kita sebagai anak tidak merasa demikian. Hal ini dikarenakan orang tua kita sebenarnya adalah manusia biasa dan masih belajar menjadi orang tua.

Berkat dukungan Amalia, Aqil akhirnya menemukan tempatnya. Aqil menjadi pelukis. Melalui komunitas Do ART, gambar-gambar Aqil digunakan dalam produk-produk UKM.

Membaca buku ini membuatku optimis dan lebih bersyukur dalam hidup. Aku kagum akan ketangguhan Amalia, Aqil dan Satria dalam menghadapi cobaan yang menghadang mereka. Membuatku menyadari sesulit apapun kelihatannya, akan ada jalan keluar. Ada hikmah dalam kondisi yang kita anggap musibah.

“Cara terbaik untuk bertahan dalam kehidupan yang bukan milik kita adalah berdamai dengan kehidupan.”

Advertisements

16 thoughts on “Wonderful Life by Amalia Prabowo

  1. Buku ini sepertinya sedang hype ya. Mungkin karena bakal rilis filmnya nggak lama lagi dan penerbit sedang mengadakan kompetisi dengan buku ini. Sedang baca juga tapi bukan prioritas (bacanya via ebook).

    Liked by 1 person

  2. Salah satu pelajaran yang paling berharga dalam hidupku adalah menyadari bahwa orang tuaku adalah hadiah dari Allah. Aku tidak bisa memilih dilahirkan dari orang tua seperti apa >>> betul banget ini. Hana tulisannya selalu dalem banget deh 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s