Belajar Menerima Ketidaksempurnaan melalui A untuk Amanda

 

A Untuk AmandaJudul buku: A Untuk Amanda

Penulis: Annisa Ihsani

Editor: Yuniar Budiarti

Desain sampul: Orkha Creative

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-605-03-2631-3

Cetakan: pertama, Maret 2016

Tebal: 264 halaman

Harga: Rp 60.000

 

My Rating: 4,5 of 5 star

 

Review Singkat:

Kalau kamu bertanya rekomendasi novel psikologi padaku, Well, A untuk Amanda adalah salah satunya.
A untuk Amanda mampu menggambarkan dengan baik episode-episode depresi, dan hubungannya dengan perfeksionis. Selain itu, aku suka pesan dalam A untuk Amanda bahwa masalah kesehatan mental dapat menyerang siapa saja, termasuk orang yang memiliki kehidupan sempurna seperti Amanda. πŸ™‚

 

 

Review panjang:

*Spoiler alert*

Banyak orang yang ingin menjadi Amanda dan rela bertukar kehidupan dengannya. Dilihat dari luar, kehidupan Amanda tampak sempurna. Dia siswi teladan karena langganan juara kelas dan memiliki IPK tertinggi seangkatan. Kehidupan sosial Amanda juga baik. Dia memiliki pacar Tommy pemain basket dan satu geng dengan si cantik dan populer Helena. Meski sudah tidak memiliki ayah, kehidupan keluarga Amanda dapat dikatakan baik karena Ibu Amanda adalah sosok yang suportif dan bangga pada Amanda.

Harusnya Amanda bahagia bukan? Tapi ternyata Amanda tidak bahagia.

Ketidakbahagian Amanda bukan karena terjadi peristiwa buruk atau menyedihkan pada Amanda. Namun, Amanda mengalami depresi.Β  β€œTadinya kukira orang mengalami depresi ketika ada sesuatu yang salah dengan hidup mereka. Tapi bagiku, depresi datang ketika segala hal dalam hidupku berjalan dengan sempurna.” (halaman 10)

Pemikiran Amanda mengenai depresi menggambarkan persepsi kebayakan orang mengenai depresi, bahwa harus ada yang salah dalam hidup seseorang untuk mengalami depresi. Tapi depresi tidak selalu bekerja seperti itu.

β€œDepresi dapat terjadi pada siapa saja, apapun pandangan spiritual mereka. Selain itu, apa kau menyebut pasien kanker egois karena memiliki kanker? Tidak, kan? Sama saja dengan penyakit mental” Dr. Eli (halaman 151)

Depresi yang dialami Amanda ada kaitannya dengan sisi perfeksionis yang dimilikinya. Seorang yang perfeksionis berpikir/memiliki ekspektasi bahwa dirinya harus sempurna dan menganggap orang lain juga mengharapkan kesempurnaan darinya.

Salah satu ciri perfeksionis yang muncul dalam karakter Amanda adalah impostor syndrome: fenomena psikologis yang biasa melanda orang-orang berprestasi. Mereka merasa pencapaian didapat bukan karena kompetensi, melainkan sebuah keberuntungan atau karena mereka memperdaya orang lain.

Amanda merasa dia adalah penipu. Amanda merasa dirinya harus bisa selalu menjawab benar dan selalu mendapat nilai A untuk dapat dianggap pintar.Tapi jawaban Amanda tidak selalu benar. Amanda memiliki jawaban salah tapi Amanda beruntung tidak ketahuan oleh guru dan teman-temannya. Amanda berhasil selamat dari mengemukakan jawaban salah karena gurunya memilih siswa lain untuk menjawab pertanyaan beliau.

Semenjak itu, Amanda curiga jangan-jangan dia dianggap pintar hanya karena keberuntungan? Jangan-jangan guru-gurunya hanya memberi soal yang dia ketahui jawabannya? Amanda begitu tersiksa ketika mengetahui bahwaΒ “kenyataan” tersebut.

Amanda berpikir jika semua yang dia miliki dan raih hanyalah keberuntungan, itu berarti suatu saat semuanya akan hilang. Amanda menyadari keberuntungan bukanlah sesuatu yang permanen.

Amanda ketakutan. Apa yang akan terjadi jika guru dan teman-temannya tahu bahwa Amanda memiliki jawaban salah? Suatu saat nanti semua orang tahu bahwa dia tidaklah sepintar yang orang-orang kira, tidak sebaik yang orang-orang pikirkan. Amanda merasa tidak cukup keras berusaha dan masih berhutang banyak pada keberuntungan. Dia menjadi sangat lelah. Yang ingin dia lakukan hanyalah berbaring di tempat tidur dan tidak memikirkan apa-apa lagi (halaman 98).

Amanda memiliki distorsi kognitif. Dia mengabaikan hal positif dalam hidupnya dan berpikir segala hal yang diraihnya juga mampu diraih oleh orang lain (halaman 156). Amanda merasa jika tidak mendapat nilai sempurna dalam ujian, maka seluruh hidupnya adalah kegagalan. Amanda mengira masa depannya akan hancur karena satu nilai B.

Amanda merasa dirinya harus produktif dan kreatif atau hidupnya tidak ada gunanya. Amanda merasa dia harus mencoba menjadi yang terbaik dalam setiap hal yang dikerjakannya. (halaman 154).

Ketika Amanda menunjukkan simptom depresi dan berulang kali menyampaikan kepada orang-orang terdekatnya bahwa dia merasa dirinya depresi, Ibu Amanda menyangka Amanda hanya sedang malas. Sementara Tommy, pacar Amanda menganggap Amanda egois dan seharusnya mulai melihat orang lain yang tidak seberuntung Amanda. Minimnya pengetahuan orang-orang di sekitar Amanda mengenai simptom depresi membuat Amanda tidak segera mendapat pertolongan.

Ibu Amanda baru bertindak dan membawa Amanda ke dokter umum ketika masalah kesehatan mental yang dialami Amanda mulai berpengaruh kepada fisiknya: Amanda jadi sering memuntahkan makanannya.Β  Meski ini adalah kisah fiksi, tindakan Ibu Amanda merefleksikan anggapan bahwa kesehatan fisik dianggap jauh lebih penting dibanding kesehatan mental. Ketika simptom depresi yang Amanda mulai muncul namun tidak terlihat secara fisik, keluhan Amanda justru diabaikan.

Dokter umum yang ditemui Amanda dan ibunya merekomendasikan agar Amanda bertemu psikiater. Dari situ, dimulailah pertemuan Amanda dengan Dr. Eli. Setelah beberapa pertemuan, Dr. Eli kemudian mendiagnosis Amanda adalah seorang yang perfeksionis dan memiliki kecanduan prestasi. Amanda pun mulai menjalani sesi terapi perilaku kognitif untuk membuat Amanda menyadari distorsi kognitif yang dia miliki dan cara meresponnya.

“Kau tidak butuh persetujuan saya. Apa pun yang saya dan orang lain pikirkan, itu tidak penting. Satu-satunya hal yang berpengaruh adalah apa yang kaupikirkan tentang dirimu sendiri.” (hal. 253)

Di bagian akhir, setelah menjalani sesi terapi dengan Dr. Eli. Amanda menyadari bahwa sebenarnya dirinya dan hidupnya tidak perlu sempurna untuk bahagia.

β€œTapi bagaimana kalau kau tidak menjadi lulusan terbaik? Bisakah kau hidup dengan kenyataan itu?” tanya Dr. Eli

β€œSaya bisa hidup dengan kenyataan itu, tapi…” Amanda terdiam beberapa saat, hanya memandangi lukisan Van Gouh di dinding. Kemudian menyadari sesuatu β€œSaya bisa hidup dengan kenyataan itu.”

Amanda akhirnya menyadari nilai jelek yang dia dapat, kegagalan yang terjadi, dan persepsi buruk orang lain terhadap dirinya bukanlah akhir dari segalanya. Dia masih bisa bertahan hidup meski dirinya dan hidupnya tidak sempurna. Amanda dapat menghadapi semua itu. πŸ™‚

 

Further Reading recommendations:

4 Difficulties of Being a Perfectionist

14 Signs Your Perfectionism Has Gotten Out Of Control

Feel like a fraud?

Why Being a Perfectionist Can Make You Depressed

Perfectionist Traits: Do These Sound Familiar?

This Is the Difference Between Sadness and Depression

 

Advertisements

5 thoughts on “Belajar Menerima Ketidaksempurnaan melalui A untuk Amanda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s