Tasawuf Modern By Hamka

25520337Judul: Tasawuf Modern

Penulis: Prof. DR. Hamka

Editor: Muh. Iqbal Santosa

Cetakan: I, Maret 2015

Jumlah halaman: 377

Penerbit: Republika Penerbit

ISBN: 978-602-899-7980

 

Sinopsis:

Buya Hamka. Nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Putra pertama dari pasangan Dr. Abdul Malik Karim Amrullah dan Shaffiah ini lahir pada 17 Februari 1908 di Maninjau, Sumatra Barat. Tidak satu pun pendidikan formal ditamatkannya. Banyak membaca menjadi modalnya, tak lupa belajar langsung dengan tokoh dan ulama, baik di Sumatra Barat, Jawa, bahkan sampai ke Mekah. Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar dan Universitas Prof. Moestopo Beragama ini wafat pada hari Jum’at, 24 Juli 1981.

Buku ini tidak menguraikan tentang tasawuf, meski judulnya Tasawuf Modern. Buku ini tetap relevan, meski ditulis puluhan tahun yang lalu. Temanya tentang bahagia, topik yang tidak pernah selesai diperbincangkan, dan selalu ingin diwujudukan oleh siapa pun, di mana pun, dan dengan cara apa pun.
Ditulis oleh cendekiawan muslim berwawasan luas, dengan latar belakang sastrawan, menjadikan buku ini bukan saja kaya makna, tapi juga enak dibaca. Mari kita lihat salah satu uraiannya, “…Berbagailah yang timbul ketika memberi keputusan. Ada yang mengatakan baik, sebab sayang, ada yang mengatakan buruk, sebab benci.

Berbagai ragam keputusan menurut pengalaman, ilmu, dan penyelidikan….bahagia dan celaka itu hanya berpusat kepada sanubari orang, bukan pada zat barang yang dilihat. Bagi kebanyakan orang, masuk bui menjadi kecelakaan dan kehinaan, bagi setengahnya pula, menjadi kemuliaan dan kebahagiaan.”
Seringkali orang mencari bahagia dengan mengorbankan waktu, tenaga, keluarga, bahkan nyawa. Padahal, bahagia ada di dalam diri kita, dekat dengan kita.

Review:
My rating: 5 of 5 stars
Alhamdulillah akhirnya bisa selesai baca buku ini juga 😀
Ini adalah buku yang direkomendasikan penulis favoritku Siti

Siti bilang dia memerlukan waktu lama menyelesaikan buku ini karena perlu perenungan.
Aku awalnya tidak percaya ucapan Siti (soal buku ini butuh waktu lama untuk selesai) karena aku percaya bahwa buku bagus harusnya bisa membuatku duduk betah berlama-lama dengannya sehingga aku bisa menyelesaikan buku ini dengan cepat.
Ya, selama ini itu yang aku percaya.
Bagus = cepat selesai! (Buku yang cepat selesai belum tentu bagus tapi buku bagus biasanya cepat selesai)

 

Ternyata buku Buya Hamka ini mampu mengubah pendapatku. Buku bagus tidak selamanya cepat selesai (apa karena ini buku non fiksi ya?).

Hmmm…

Atau justru hal yang membuatku lama membaca buku ini karena buku ini ditulis tahun 1930an? Untuk beberapa bagian, aku harus terdiam sejenak, menerka maksud yang ingin disampaikan buku ini.

Meski begitu, aku belajar banyak hal dari buku ini. Aku kagum bagaimana pemikiran Hamka di tahun 1930an banyak yang masih relevan sampai kondisi sekarang.

O ia, buat yang belum tahu :

Tasawuf adalah keluar dari budi pekerti tercela dan masuk kepada budi pekerti yang terpuji. Tujuan tasawuf adalah membersihkan jiwa, mendidik, dan mempertinggi derajat budi, menekankan segala kelobaan dan kerakusan memerangi syahwat  yang lebih dari keperluan untuk kesejahteraan diri.

Dalam buku tasawuf modern ini, Hamka membahas tentang kebahagian, topik yang sering dibahas di psikologi. Di bagian awal Hamka membahas definisi bahagia dari berbagai tokoh, dan kemudian fokus pada kebahagian menurut islam, disertai kisah para Nabi, orang-orang saleh dan kondisi masyarakat di jamannya.

Aku suka perumpaman yang digunakan Hamka, misalnya melihat hidup seperti tangga:

Tak ubahnya meningkat cobaan iman dengan meningkat anak tangga yang bertingkat-tingkat. Tiap-tiap satu anak tangga dinaiki, datanglah dari bawah suatu pukulan yang hebat mengenai pinggul yang mendaki itu. Kalau tangan kuat bergantung, kalau kaki tiada lemah dan akal tiada hilang, pukulan itu akan mendorong menaikkannya ke atas setingkat lagi. Tetapi kalau tangan lemah kaki tak kuat, akal hilang, pikiran kusut, jatuhnya tentu bukan ke tangga di bawah kaki, tetapi ke anak tangga di bawah sekali.

Sementara itu, bagian yang membuatku merasa jleb saat membaca adalah

Saat Rasulullah berkata:

“Saya ini hamba Allah, dan Dia tidak akan mengecewakan daku.” (halaman 306)

Pas baca bagian ini rasanya jleb karena aku sering kali lupa bahwa Allah memiliki rencana yang sempurna dan selalu memberikan yang terbaik untuk hambaNya.

Aku menikmati membaca buku ini, terlepas butuh waktu untuk memproses hikmahnya.Salah satu buku yang aku rekomendasikan untuk dibaca. 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s