How We Decide by Jonah Lehrer

13313659Judul Buku: How We Decide: Kenali Cara Kerja Otak Agar Bisa Lebih Cerdas dan Tangkas Memutuskan Apa Saja

Pengarang: Jonah Lehrer

Penerjemah: Agung Prihantoro

Penerbit: Serambi

Cetakan: 1, April 2010

Jumlah halaman: 376

ISBN : 9789790241824

 

My rating: 4 of 5 stars

Kalau kamu bertanya padaku buku apa yang sebaiknya dibaca ketika ingin kabur dari kenyataan? Aku merekomendasikanmu untuk membaca buku ini.

Aku berusaha kabur sejenak dari tugas yang menumpuk dengan pergi ke bagian perpustakan majalah SWA dan tanpa disengaja aku melihat buku ini. Aku sudah menginginkan membaca buku ini sejak lama dan tidak menyangka menemukan versi terjemahannya di perpustakan majalah SWA.
Alhamdulillah!

Kesenanganku bertambah ketika mendapati ternyata buku ini benar-benar seru!

Meskipun cover dan judul buku ini terkesan berat dan membosankan, buku ini ringan.
Jonah Lehrer berhasil menjelaskan dengan sangat baik.
Mungkin karena itu, buku ini masuk kategori buku psikologi populer.
Membuatku berpikir mengapa aku tidak menemukan buku ini lebih cepat, lebih tepatnya ketika aku mengambil mata kuliah psikologi faal atau neuropsikologi?!

Sinopsis buku ini tidak menipu:

Kontan atau kredit? Deal or No Deal? Tendang bolanya sebelum atau setelah menyentuh tanah? Hidup ini penuh pilihan. Setiap saat kita membuat keputusan, dari yang sangat penting sampai sepele.

Lehrer secara renyah daan meyakinkan menjawab dua pertanyaan pokok: Bagaimana cara membuat keputusan yang lebih baik dan lebih tepat?

Buku ini terdiri dari 8 bab: Quarterback di Pocket, Prediksi-prediksi dopamin, Tertipu oleh perasaan, Peran Akal Budi, Tercekik oleh Pikiran, Moralitas, Otak yang selalu berdebat, dan kartu poker di tangan.

Bagaimana engkau tahu bahwa itu benar-benar keinginanmu untuk melakukan sesuatu atau jangan-jangan hanya sejenis impuls saraf di otakmu?

Sebagian besar penelitian di buku ini sebenarnya sudah pernah aku baca dan pelajari ketika kuliah psikologi dulu tapi aku tetap belajar sesuatu yang baru. Aku kagum dengan perspektif Jonah Lehrer dalam menceritakan kembali hal-hal yang sebenarnya sudah aku ketahui. (atau mungkin aku yang tidak menyimak dan belajar dengan baik ya?)

Misal otak manusia sempat dikira berfungsi layaknya komputer. Tapi asumsi ini keliru karena komputer tidak punya perasaan, padahal pikiran punya.

Ada kalanya perasaan menjerumuskan kita dan mendorong kita melakukan segala macam kesalahan yang dapat diprediksi
Manusia sering merendahkan otak emosional, menyalahkan perasaan kita sebagai sumber semua kesalahan. Teori ini keliru.
Emosi memiliki beberapa kelebihan diantaranya:
Jika emosi tak ada, akal budi pun tiada.
Otak-otak emosional dapat membuat keputusan yang cepat berdasarkan sedikit informasi. Tak memiliki emosi, kita akan kesulitan membuat keputusan.

Membaca buku ini membuatku tidak berhenti berdecak kagum betapa Allah begiu hebat dan rinci dalam mendesain otak (meskipun Jonah Lehrer menulis buku ini menggunakan perspektif teori evolusi.)

Hal-hal yang membuatku berdecak kagum:

Otak manusia menjadi sebuah model “mesin” yang efisien: sekalipun otak berpikir keras, korteksnya hanya membutuhkan sedikit energi, lebih sedikit daripada yang dibutuhkan sebuah bola lampu.

Otak tidak mudah cepat panas dan tidak membutuhkan kipas seperti processor komputer.

Setiap perasaan sebenarnya merupakan rangkuman data, sebuah respons viseral terhadap seluruh informasi yang tak dapat diakses secara langsung.
Setiap kali Anda merasa senang atau kecewa, bahagia atau takut, neuron-neuron Anda sibuk memberitahu kembali diri mereka, mempelajari isyarat-isyarat sensoris yang muncul sebelum perasaan-perasaan tadi. Selanjutnya, pelajaran ini diingat, sehingga kelak ketika Anda membuat keputusan, sel-sel otak Anda siap untuk menghdapai peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. Sel-sel otak Anda belajar bagaimana cara memprediksi peristiwa-peristiwa penting.

Salah satu contoh kasus yang menarik di buku ini adalah saat membahas Artificial Intelligence (A.I.), yaitu Deep Blue dan TD-Gammon dan perbandingan mereka dengan otak manusia. Kedua AI diujicobakan melalui permainan catur.

Deep blue memiliki kelemahan, pola pikirnya kaku. Deep blue sendiri tidak pernah belajar. Ia membuat keputusan dengan memprediksi kemungkinan-kemungkinan hasil dari beberapa juta langkah yang berbeda. Deep blue mengambil lagkah yang hasilnya diprediksi paling bagus. Bagi deep blue, permainan catur hanyalah rangkaian pemecahan masalah matematika.

Berbeda dengan Deep Blue, TD Gammon tidak menghitung setiap kemungkinan.

TD Gammon tidak dibekali pengetahuan sama sekali. Awalnya, langkah-langkah TD Gammon sepenuhnya acak. Ia selalu kalah dan selalu membuat kesalahan-kesalahan bodoh. Namun, komputer ini bertindak bodoh sementara saja; ia dirancang untuk belajar dari pengalaman-pengalamannya sendiri. Siang malam, komputer ini bermain triktrak dengan diri sendiri, secara tekun mempelajari langkah-langkah mana yang paling efektif. Setelah bermain catur dengan dirinya selama beratus ribu kali, TD Gammon dapat mengalahkan pecatur-pecatur terbaik di dunia.

TD Gammon membandingkan prediksi-prediksinya dengan apa yang sebenarnya terjadi selama permainan triktrak berlangsung. Hasil-hasil perbandingan ini merupakan subtansi pembelajarannya dan TD gammon selalu berusaha membuang “sinyal kesalahan”. Sehingga prediksi-prediksinya semakin akurat dan keputusannya untuk memilih strategi makin efektif dan cerdas.

dan masih banyak contoh kasus menarik lainya!

Pada akhir bab, penulis mengajak pembaca untuk memikirkan cara pikir kita. Setiap kali kita membuat keputusan, pikirkanlah keputusan yang sedang kita buat dan proses pikir yang menghasilkannya. Gagasan ini berlaku dalam semua aktivitas, baik mengoper bola ke pemain sayap, memilih calon presiden, bermain poker, atau menilai hasil focus group di televisi. Cara terbaik untuk memastikan bahwa kita sedang menggunakan otak dengan tepat adalah mempelajari cara kerja otak, mendengarkan perdepatan di kepala kita.

O ia, Buku ini juga aku rekomendasikan penggemar Malcom Gladwell.
Membaca buku ini mungkin membuatmu bernostalgia dengan Blink, namun versi lebih lengkap. 🙂

View all my reviews

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s