Anak-Anak Ibrahim by Rabi Marc Schneier, Imam Shamsi Ali

Anak-Anak IbrahimAnak-Anak Ibrahim by Rabi Marc Schneier

My rating: 4 of 5 stars

Cover dan sinopsis buku ini langsung menarik perhatianku.

Tulisan di covernya: Anak-anak Ibrahim. Dialog terbuka mengenai isu-isu yang memisahkan dan menyatukan Muslim-Yahudi.

Membaca tulisan di covernya membuatku penasaran mengenai isu apa yang menyatukan, mengingat selama ini aku lebih sering menerima informasi yang memisahkan dan membuatku menyadari bahwa aku hanya tahu sedikit atau mungkin tidak sama sekali mengenai Yahudi.

Sinopsisnya juga membuat penasaran:
Rabi Marc Schneier, keturunan generasi kedelapan belas dinasti rabinik terkenal , tumbuh besar dengan menyimpan rasa curiga terhadap umat Islam, yakin mereka adalah antisemit. Imam Shamsi Ali, tumbuh besar di desa kecil di Indonesia dan belajar di Pakistan dan Arab Saudi, yakin semua orang Yahudi ingin menghancurkan Muslim. Datang dari posisi yang sama-sama tidak percaya, sepertinya mustahil kedua pemimpin agama ortodoks ini bisa sepaham. Namun, setelah peristiwa 11 September, di tengah-tengah kesengitan yang menajam anatara Yahudi dan Muslim, kedua pria ini mengalahkan prasangka mereka dan bersatu dalam keyakinan bersama, yaitu pentingnya membuka dialog dan saling menghormati. Dalam prosesnya, mereka tak sekedar menjadi teman, tetapi juga membela agama rekannya, mengecam ancaman antisemitisme dan Islamofobia, serta menggalakkan kerja sama lintas-agama.

Buku ini dibuka dengan kisah sejarah atau semacam biografi singkat Rabi Marc Schneier dan Imam Shamsi Ali.

Membaca kisah Rabi Marc Schneier membuatku berpikir jika aku terlahir sebagai seorang Yahudi dan mendengar bahwa Muslim membenci Yahudi hanya karena aku seorang Yahudi, mungkin aku juga akan turut membenci muslim/Islam.

Membuatku berpikir tidakkah ini lucu? Muslim membenci Yahudi karena berpikir Yahudi membenci Muslim?
Dan Yahudi membenci Muslim karena berpikir Muslim membenci Yahudi?

Buku ini mengajak kita untuk fokus pada persamaan antara Yahudi dan Islam dan mulai membangun dialog untuk hidup damai diantara dua komunitas. Mengajak kita agar keluar zona nyaman demi menemukan keserasian.

Menurut saya tidak ada perbedaan di antara antisemitisme dan Islamofobia. Keduanya merupakan pola pikir yang menyakitkan, merendahkan, memecah-belah yang dimotori oleh rasa takut, salah informasi, dan rasa sedih. Orang-orang ingin mencari keadilan bagi kesalahan yang nyata maupun yang dibayangkan; tetapi, menyebarkan hukuman kepada suatu kelompok kambing hitam yang disamaratakan begitu saja merupakan tindak penghakiman, dan sayangnya tindakan ini cukup umum dilakukan oleh umat manusia.

Kedengkian hati semacam ini tidak pernah terpuaskan, terus berputas dalam siklus kebodohan dan amarah yang tanpa akhir dan malah hanya menggerogoti jiwanya sendiri. Rasa benci terhadap orang lain biasanya menjadi alasan yang mudah bagi si pembenci untuk memaafkan sesuatu yang sesungguhnya tidak ia miliki. Satu-satunya penangkal adalah umat Yahudi dan umat Islam bersatu melawan antisemitisme maupun Islamofobia dalam ikatan persaudaraan dan persahabatan, serta memerangi kebodohan dengan pengetahuan dan kebencian dengan kasih sayang.

Sebagai seorang muslim, saya mengalami kepahitan Islamofobia di dalam masyarakat kita. Dan karena saya tidak ingin ini terjadi kepada saya, saya juga tidak ingin ini terjadi pada orang lain. Antisemitisme dan Islamofobia merupakan dua nama berbeda, tetapi memiliki sifat kejam yang sama. Maka, penting bagi komunitas Islam mapun Yahudi untuk menguasai kecenderungan-kecenderungan buruk yang ada di tengah-tengah kita. Kita semua harus menghadapi ketidaksetaraan dan ketidakadilan di dunia ini, luka-luka yang perlu disembuhkan, serta fakta tak terbantahkan bahwa kita semua bersama-sama terlibat di dalamnya.

Buku ini juga membawa pesan untuk tidak menggeneralasi , ya memang ada Yahudi yang jahat, tapi hanya karena seorang/sebagian yang jahat bukan berarti seluruh komunitas Yahudi jahat. Begitu pula dengan Islam dan muslim, ya memang ada muslim yang jahat tapi bukan berarti seluruh muslim jahat.

Tidak ada gunanya jika masing-masing pihak menganggap dirinya sebagai satu-satunya korban di dalam konflik ini dan menggunakan perasaan-sebagai-korban ini untuk membenarkan segala perbuatannya, bahkan jika perbuatan tersebut salah.Cara terbaik untuk menangani hal ini adalah dengan membangkitkan kesadaran bahwa kedua belah pihak adalah korban.

Sebab saya menyinggung soal kedua belah pihak yang merasa menjadi korban dan mengalah pada psikologi korban: kedua pihak tidak mengakui kesalahannya. Kita perlu mengakui kekurangan-kekurangan kita dan harus memperlihatkan kerelaan kita untuk menerima kompromi, yang memang, akan terasa menyakitkan bagi kedua belah pihak. Selama keduanya bersikeras mendapatkan kembali setiap senti tanah, konflik ini tidak akan bisa diselesaikan.

Jihad kecil merujuk pada konflik bersenjata jenis apapun. Ini ditujukan hanya demi mempertahankan diri, walaupun, sayangnya istilah ini dicomot oleh istilah negatif oleh orang-orang yang salah memahaminya. Orang-orang yang menggunakan nama Islam sambil menghasut pembunuhan atau melukai orang lain sesungguhnya melakukan tindakan yang bersebrangan dengan kehendak Allah dan yang dia wajibkan. Bagaimana mungkin membenarkan serangan teroris yang dirancang untuk melukai orang-orang tak berdosa padahal Al-Quran memerintahkan untuk tidak melakukan perbuatan semacam itu?

Jadi, pada dasarnya, Tuhan menyerukan orang-orang Ibrani-yang pada masa itu berhasil menyelamatkan diri ke Mesir dan berusaha mengambil alih tanah mereka atas perintah Tuhan-agar tidak memperlakukan orang-orang non-Yahudi yang tinggal disana dengan perbuatan kejam sebagaimanan mereka pernah diperlakukan. Ia memerintahkan mereka untuk mengingat sejarah penderitaan mereka sendiri dan bangkit melawan kecenderungan manusia untuk merasa takut dan tidak mempercayai orang lain sehingga memperlakukannya sebagai ancaman. Hanya dengan membangun ikatan komunikasi dan kerjasama dengan agama lain, kita bisa mulai mengasihinya. Dengan Cara itulah, lingkaran rasa benci dan kekerasan yang telah mengikuti umat manusia di sepanjang sejarah akan terputus. Mengasihi sesama anggita etnis atau agama sendiri tidaklah cukup, meskipun ini merupakan langkah pertama yang sangat penting. Kita pun harus mengasihi agama lain.

Mengapa ungkapan “kasihi sesamamu” malah mendapat posisi yang lebih unggul dibanding “kasihi orang asing” diantara umat Yahudi, Kristen, maupun agama lainnya? Sebab, kedua perintah tersebut memerintahkan orang-orang untuk keluar dari zona nyaman mereka, dari keluarga dan teman-teman mereka, dan mendekati orang-orang yang pada situasi umum cenderung tidak mereka ajak bicara. Namun, sesuai dengan sifat alami manusia, meski mengasihi sesama merupakan tindakan yang sudah cukup sulit untuk dilakukan sebagian besar dari kita, perintah itu masih lebih mudah dicapai dibanding mengasihi orang asing.

Membaca buku ini membuat pengetahuan tentang Yahudiku bertambah. Salah satunya tentang isu keterpilihan umat Yahudi.

Selama berabad-abad, dengan beberapa pengecualian yang penting, para intelektual cemerlang terkemuka Yahudi berkata bahwa keterpilihan Yahudi berarti kita adalah sebuah bangsa tertentu dengan sebuah misi yang unik, tetapi bukan berarti kita lebih baik dari bangsa-bangsa lain.

Yang menarik adalah ketika Taurat membicarakan keterpilihan umat Yahudi, jelas terpapar bahwa misi kami adalah membawa sistem agama monoteisme yang baru kepada umat manusia alih-alih membawa Yudaisme itu sendiri ke umat lain. Kami, umat Yahudi jelas-jelas bukan umat yang mengajak masuk, yang hendak mengubah dunia agar memeluk agama Yahudi. Bahkan, sebagaimana yang telah diketahui luas, masuk agama Yahudi sangatlah sulit. Itu sebabnya, umat kami berjumlah sangat sedikit.

Jadi, Umat Yahudi datang dari berbagai kondisi dengan beragam definisi diri dan berbagai identitas. Namun, kembali ke isu keterpilhan, saya percaya bahwa semua umat Yahudi “terpilih” untuk menunjukkan suatu takdir istimewa, yaitu sebuah identitas Yahudi. Mandat ini mencakup umat Yahudi yang mendefinisikan hubungan mereka dengan Yudaisme dan orang-orang Israel sebagai sebuah kebangsaaan atau sebuah budaya, begitu pula bagi mereka yang menghubungkan Yudaisme sebagai sebuah keyakinan.

Istilah “keterpilihan” pada hakikatnya mengisyaratkan superioritas. Mungkin, seluruh kontroversi ini bisa saja diperbaiki dengan adanya terjamahan yang lebih cermat dan seksama atas istilah bahasa Ibrani, am segulah. Pada umumnya, selama ini kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa non-Yahudi sebagai”bangsa terpilih.” Namun, makna harfiahnya sebagaimanan dinyatakan dalam Taurat (Keluaran 19:5; Ulangan 7;6; 14;2; dan 26:18) dapat diterjemahkan secara lebih akurat sebagai “bangsa terkasih.”

Jadi, tentu saja terminologi , am segulah-bangsa terkasih- merujuk kepada hubungan istimewa yang Tuhan miliki dengan umat Yahudi. Ini menerangkan bahwa di periode biblikal, Dia memiliki keterlibatan langsung dengan dan rasa kasih kepada umat Yahudi sehingga dia tidak hanya mengekspresikannya, tetapi juga berkali-kali bertindak. Seperti yang telah saya sebutkan, saya yakin Tuhan memilih umat Yahudi untuk misi istimewa, yaitu menyebarkan monoteisme etis di dunia dan misi ini berbeda dari misi-misi untuk bangsa dan keyakinan lain yang Dia pilih.
Shamsi bercerita kepada saya bahwa dalam teologi Islam, para penganut Islam yang tidak berbuat sesuai dengan tanggung jawab umat terbaik maka kehilangan tempat mereka di dalam posisi tersebut. Pernyataan tersebut memberi tahu saya bahwa dalam Islam, sebagimana juga di dalam Yahudi, titik beratnya terletak pada tanggung jawab dan juga pada hak-hak istimewanya. Rasa tanggung jawab terhadap seluruh umat manusia tersebut, terutama dalam konsep tikkun olam dan islah, memang, sebagaimana yang ditulis kawan saya Shamsi Ali, “menunjukkan satu titik pertemuan yang menakjubkan dari keyakinan-keyakinan kita.”

Btw, bagian favoritku adalah membaca kisah hidup Imam Shamsi Ali. Tentang bagaimana beliau tidak berencana melanjutkan pendidikan, tapi kemudian berhasil masuk ke pesantren dan bahkan mendapat beasiswa ke Pakistan. Kisah hidup beliau membuatku merasa optimis bahwa Allah mengatur hidup hambanya dan sering kali rizki datang dari arah yang tak disangka-sangka 🙂

Tidak semua isu antara Muslim dan Yahudi dibahas dalam buku ini, meski begitu menurutku Rabi Marc Schneier dan Imam Shamsi Ali telah berani memulai dan membuka dialog tentang komunitas Yahudi dan Islam. Ada juga bagian dari buku ini yang perlu perenungan lebih lanjut dan mungkin ditunda untuk menyatakan setuju atau tidak setuju. Seperti yang Imam Shamsi Ali katakan “Jika Anda bertemu tiga orang Islam, mungkin Anda akan menemukan sembilan pendapat terhadap segala isu, setiap saat.”.

Dalam perbedaan pendapat apapun, kita sebagai manusia yang rentan berbuat kesalahan hanya akan mendapat sebagian informasi atau wawasan yang disebabkan batasan dan sudut pandang orang-orang terkait. Hanya Tuhan yang Melihat dan Mengetahui semuanya, bisa mengetahui kisah sepenuhnya atas peristiwa apa pun. Oleh karena itu, hanya Tuhan yang bisa menghakimi dan alasan mengapa kita tidak memikul tanggung jawab tersebut. Sebaliknya, kita harus berusaha mengubah hal-hal dalam diri kita yang tidak layak ditunjukkan di hadapan Tuhan-entah itu sifat rakus, malas, takut, abai atau cemburu. Jika ada aspek dalam diri yang malu kita perlihatkan di hadapan Tuhan, ini adalah aspek-aspek yang perlu kita perbaiki agar semakin dekat dengan peniruan yang layak akan nilai-nilai yang Tuhan ingin kita wujudkan.

Jihad besar adalah perang melawan diri sendiri, sementara jihad kecil adalah perang melawan orang lain. Maksudnya, Jihad besar adalah perjuangan yang umum bagi kita semua – perjuangan untuk jujur, setia, berderma, tidak iri hati, tidak sombong, serta menjauhi sifat iri, dusta, dang ankuh. Jihad besar mendorong kita untuk mengatasi jutaan sifat cenderung kita sebagai manusia, rasakan pada suatu masa dalam hidup kita. Kita harus berjuang keras untuk menaklukan berbagai cela dan kekurangan ini demi menjadi orang yang lebih baik. Inilah yang disebut perjuangan internal dan spiritual.

Membaca buku ini memberi secercah harapan bahwa mungkin suatu saat nanti di tingkat global muslim dan yahudi dapat hidup berdampingan secara damai. 🙂

View all my reviews

Advertisements

2 thoughts on “Anak-Anak Ibrahim by Rabi Marc Schneier, Imam Shamsi Ali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s