Dilan: A Guilty Pleasure?

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 by Pidi Baiq

My rating: 3 of 5 stars

Awal melihat Dilan di rak buku depan TM bookstore. Tertarik melihat karena berada di jajaran depan karena biasanya buku di jajaran depan adalah buku populer. Selesai membaca bagian belakangnya sepertinya lucu tapi entah mengapa aku punya firasat kalau dilan bukan tipe buku kesukaanku sehingga aku mengurungkan niat membeli buku tersebut.

Kemudian saat membuka Goodreads, aku menemukan review tentang Dilan bertebaran bintang 4 atau 5 dari teman-temanku. Selain itu, aku menemukan Dilan menjadi hot topik di sosial mediaku yang lain, seperti instagram, path, tumblr, twitter, dan facebook. Banyak teman perempuanku demam Dilan dan jatuh cinta padanya.
Aku pun makin penasaran dengan Dilan. Aku berusaha mencari tahu tentang Dilan melalui twitter pengarangnya, Pidi baiq. Twit-twitnya unik, out of the box dan mengundang tawa. Dari twitter, aku menemukan link blog Pidi baiq dan setelah berkunjung, aku ternyata menemukan bahwa aku dapat membaca bab pertama dilan secara gratis.

Selesai membaca, aku makin penasaran.Ok, I will buy Dilan!
Akhirnya tanggal bersejarah itu tiba: 29 Oktober 2015. Hari itu aku berhasil mendapatkan dan memegang Dilan. Kebetulan tugasku di kantor sedang senggang sehingga aku bisa dengan segera melahap Dilan.

Harus kuakui Pidi baiq piawai sekali melucu. Selama membaca Dilan, aku menemukan banyak hal yang bisa memancing tawa. Sayangnya aku tidak tertawa, hanya tersenyum atau nyengir. Hmm… mungkin karena aku sudah sering terpapar kutipan-kutipan mengenai Dilan yang tersebar di beranda sosial media sehingga guyonan Dilan tidak begitu mempan padaku.

Buku Dilan ditulis dari sudut pandang Milea. Karakter milea membuatku teringat diriku dan teman-temanku saat SMA. Membaca dengan sudut pandang Milea seperti sedang mendengarkan curhat seorang teman. Aku bisa memahami Milea yang awalnya berusaha menjauhi Dilan namun berakhir jatuh cinta padanya.

Dilan memiliki kesan bad boy karena dia masuk geng motor. Sejujurnya aku benci karakter Bad Boy. Tapi seperti Milea, semakin mengenal Dilan, aku semakin mengetahui sisi menariknya. Mudah untuk jatuh cinta pada karakter Dilan. Dia humoris. Reaksinya selalu tidak terduga sehingga membuat penasaran. Sisi romantis Dilan juga ditunjukkan bahwa Dilan sebenarnya pandai membuat puisi.

Entah kenapa saat membaca Dilan membuatku merasa bersalah.
*spoiler alert*
Perasaan bersalahku memuncak ketika membaca adegan terakhir. Saat Milea mencium pipi Dilan dan kemudian mereka berdua tanda tangan di atas materai meresmikan hubungan. Membaca adegan terasa seperti sedang melihat temanku melakukan hal tersebut di depanku dan aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan mereka.
Aku ngga setuju pacaran dan juga ciuman pipi tapi kemudian bertanya-tanya kalau ada cowok seperti Dilan jatuh cinta padaku dan mendekatiku, masihkah aku mampu mempertahankan prinsip ngga pacaranku
?

View all my reviews

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s